Senin, 20 April 2015

Cinta itu Sederhana

Waktu demi waktu berlalu. Saya tetap memikirkan hal yang diluar dari logika saya. Kebimbangan dan keresahan ini membuat saya tidak betah dalam beraktifitas. Saat ini tidak ada hal lain yang lebih menenangkan selain tenggelam bersama selimut dan bersandar di tumpukan bantal. Mungkin perut pun kali ini berkompromi dengan saya. Sama sekali tidak merasa lapar. Hal fisiologis yang wajar jika pikiran melanda otak kemudian terjadi penurunan hasrat, ya.. salah satunya adalah nafsu makan.

Mencari rasa apa ini, percuma. Rasanya seperti tertusuk benda tajam tetapi ini lebih sakit daripada luka tusuk apapun. Berada di antara jantung dan tulang rusuk. Jelas ini bukan di organ hati manusia. Jantung adalah organ manusia  dari bahasa kiasan untuk hati dalam romansa percintaan.

Ketika tersadar, akhirnya saya memutuskan untuk pergi mencari angin segar dan kegiatan lain yang membuat saya lupa. Saya tidak akan membiarkan diri saya hanyut dalam perasaan " yang tidak paham " tadi. Dan saya pun tidak juga membiarkan diri saya dalam kondisi sendiri. Akhirnya saya memutuskan untuk datang ke tempat keramayan dimana banyak orang orang lalu lalang dan mengerjakan aktifitasnya masing masing tanpa perlu memperdulikan yang lainnya. Saya merasa cukup nyaman meski hanya di temani dengan se-cup green tea frappe dan dua buah donat yang salah satunya dilapisi gambar smile.

Belajar dari gambar smile tadi. Membuat saya memahami bahwa ternyata untuk membuat orang berubah mood nya tidaklah sulit, hanya dengan 1 tahap proses yang mudah. Yaitu " tersenyumlah". Hmmm.. so far cara ini sedikit berhasil juga untuk menenangkan saya. Setidaknya berhasil untuk membangun mood untuk saya bisa berfikir jernih lagi.

Berjam-jam saya lalui menghabiskan waktu. Merenung. Membaca apa yang saya butuhkan dan kembali mengaitkannya dengan perasaan saya. Bertanya kembali kepada hati kecil saya " apa benar kamu jatuh cinta dengannya? " " apa yang membuat kamu bisa jatuh cinta setelah sekian lama ?"  Memastikan kembali apakah ini hanya perasaan  sesaat atau memang benar perasaan yang saya rasakan. Kemudian bertanya lagi kepada diri saya " apa kamu tau apa makna dari perasaan sayang yang sebenarnya? "  " atau ini mungkin hanya ego yang kamu perjuangkan?" 

Dan akhirnyapun saya menjawab dengan menganalogikannya.
"Cinta bisa datang kapan saja dia mau." " Cinta bisa datang tanpa memandang apapun." " dan cuma cinta yang bisa membuat seseorang terlihat sangat indah dibandingkan orang lainnya" . Begitu kebanyakan orang membuat statement. 
Mungkin dalam hal ini saya punya cara lain untuk menjawabnya. Yang saya rasakan semua ini sebenarnya berawal dari saya bertemu dan berkomunikasi kemudian berlanjut ke proses mencari tau dan membuat kondisi senyaman mungkin dan akhirnya sampai titik dimana saya bisa terbuka. Semakin di jalani perasaan saya semakin mengalami peningkatan. Berawal dari kagum kemudian naik menjadi saya suka dan melanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu perasaan sayang. Dalam tahap ini saya mulai merasakan dimana saya bisa manja, dimana saya bisa tertawa, dimana saya bisa merasakan sedikit cemburu dan sedikit ada perubahan mood ketika saya merasa tidak di respon.

Oke, saat ini saya akan membenarkan bahwa saya dalam tingkat saya sayang dengan sosok laki laki itu. Di tahap ini saya merasakan ego saya meningkat. Saya menjadi lebih sensitif dan mudah sekali menangis karna terbawa perasaan. Yang saya rasakan hanya rasa ingin memilikinya, rasa ingin mendapatkannya, rasa yang terlalu menggebu gebu sehingga saya lupa akan diri saya sendiri yang sebenarnya. Perasaan ini membuat saya lelah saya capek dan saya putus asa. Terlalu lebay rasanya ketika saya sadar akan tingkah laku saya.

Setelah berhasil tenang. Kemudian saya membuka kembali masa lalu saya. Berusaha menyadarkan kembali pikiran saya. Apa yang saya lakukan dimasa lalu ketika saya menyayangi dan mencintai seseorang. Ketika sebuah hubungan tidak bisa dipaksakan. Apa yang saya lakukan pada waktu itu?   Rasa sakit yang bagaimana? Apa lebih sakit dulu atau sekarang?

Saya pikir berulang kali.
Sampai akhirnya saya bisa menarik pernyataan.
Kenapa saya dulu bisa melepaskan seseorang padahal seseorang itu dulu saya kagumi saya bela saya hargai dan saya mau berkorban untuk nya bertahun tahun? Kenapa saya dulu bisa bertahan melihat dia  dengan perempuan lain yang jelas perempuan itu sudah menikung saya? Kenapa akhirnya saya bisa tersenyum kembali setelah saya melewati masa dimana saya merasa sakit hati padahal yang saya lihat dia sudah bahagia dengan orang lain? 

Jawabannya karena.. saya mencintai dia.
Pada saat itu yang saya harapankan adalah jalan terbaik yang harus saya lalui dan memberikan kebebasan dia mencari kebahagiaannya. Dan saya cuma berfikir positif terhadap semua kejadian yang saya lalui. Sesederhana itu untuk saya mencintai seseorang.

Setahun setengah berlalu dan saya dihadapkan dengan perasaan " yang saya tidak paham " ini kembali. Kali ini memang berbeda. Dia bukan siapa siapa saya tetapi bagi saya dia orang yang saya sayang. Perasaan yang semakin berlebih ini membuat saya berfikir untuk melakukan hal yang sama seperti masa lalu saya.
Mungkin saya akan memulai nya dengan membicarakan hal ini sejujurnya dengan dia supaya saya merasa lega dan tidak ada lagi perasaan yang mengganjal yang membuat saya resah. Kemudian setelah memberitahunya, saya akan melangkah ke tahap untuk menenangkan diri saya dan dia bahwa jalan yang saya ambil ini benar benar mebuat saya berkata " saya tidak apa apa " . Dan selanjutnya.. harapan saya dia bisa tenang dan tidak merasa tidak enam dan menjalani  kegiatan atau percakapan antara saya dan dia dengan " seperti biasanya kita" dan membebaskan dia bercerita ataupun memilah milih semau dia yang mungkin menurut dia yang terbaik dan pasti saya mau mendengarkan apapun keluh kesah atau berita gembira untuk dia sekalipun itu menjadi berita yang mungkin sakit untuk saya. Dan terakhir.. mungkin saya tidak sempat untuk bilang saya mencintai dia tetapi mungkin yang saya lakukan sudah mewakili bahwa saya sebenarnya mencintai dia.

Hal positif yang bisa saya ambil. Saya bersyukur masih bisa diberikan kesempatan untuk jatuh cinta setelah sekian lama sendiri dengan predikat perempuan PHP. Saya bersyukur saya bisa menyadarkan diri saya juga untuk mencoba lebih peka dengan orang lain dan tentunya kali ini menghargai usahanya. Saya bersyukur hal ini membuat saya lebih dewasa dalam hal menyikapi sesuatu, saya bersyukur saya masih disuruh belajar lagi untuk menjadi perempuan yang lebih baik lagi dibandingkan dengan yang lalu dan saya bersyukur dengan kejadian ini saya masih normal karna ternyata saya bisa juga terbuka hatinya untuk suka sama laki laki. Hehe..

Tentunya sayang saja buat saya tidak cukup tetapi ketika saya mencintai seseorang yang ternyata saya tidak bisa memiliki, inilah cara saya untuk menunjukannya. Buat saya...
                        
                          " Cinta Itu Sederhana " :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar