Jumat, 24 April 2015

Secangkir Teh manis

"Rasanya.... mmmm.. manis "
Begitulah saya membalas pertanyaan teman lama saya.  Yang saya minum waktu itu hanya secangkir teh manis.

"Kamu tau kenapa aku menyuruhmu minum ini?" Tanya teman lama saya.

" mmmm... tidak. Ini kan cuma teh manis, minuman standart yang biasa tuan rumah berikan kepada tamunya. Begitupun juga kamu, aku kan disini cuma bertamu di kedai mu " itu lah jawaban yang saya berikan.

"Hahaha..jawaban mu terlalu realistis, aku kan disini hanya membantu menghibur kamu yang sedang patah hati. Oke.. coba dengarkan aku baik baik ya. Kamu tau? Teh akan manis jika diberi gula, tapi jangan terlalu banyak di berikan gula karna akan kemanisan. Dan kalo teh tidak diberikan gula akan tawar dan hambar. " kata teman saya.

Lalu saya menjawab
" ya jelas kalo itu aku tau, aku kan sering minum teh manis dan kalo kemanisan pun aku tidak suka "

" nah, itu kamu tau. Aku cuma pengen samakan teh manis dengan hatimu. Oke.. kalo di sangkutin soal hati pun sama. Jika kamu mencintai seseorang, jangan terlalu berlebihan memberikan perhatian. Mungkin sesekali boleh berlebih tapi kalo keseringan pun hasilnya tidak baik karna hanya membuat kamu berharap lebih dan orang yang kamu tuju pun akan pergi karna tidak nyaman. Jika kamu mencintai seseorang pun jangan terlalu kurang perhatian, karna itu bisa membuat orang yang kamu tuju berfikir kalo kamu hanya bermain main dengannya dan tidak serius. Tapi ketika kamu sudah menjalani hubungan janganlah kamu seperti teh tawar, tidak menarik atau lupa memberikan "gula" atau lupa menjadi orang yang asik karna terlalu ingin hubungan yang perfect padahal yang bikin tidak bosan kan justru dinamika yang naik turun." Teman lama saya menerangkan.

Lalu aku menjawab ..
" ohh.. seperti itu ya... mungkin selama ini teh manisku  terlalu banyak gula hingga orang orang pun memilih untuk mengambil teh tawar setelahnya "

Lalu teman saya berbicara..
" nah, kalo begitu mulailah membuat teh manis dengan takaran gula yang pas, sehingga teh manis mu disukai setiap orang dan yang jelas tidak akan mengambil teh tawar lagi untuk menetralisir kemanisan teh manismu.. "

Sesimpel itu mempelajari hati hanya dari secangkir teh manis.

Senin, 20 April 2015

Cinta itu Sederhana

Waktu demi waktu berlalu. Saya tetap memikirkan hal yang diluar dari logika saya. Kebimbangan dan keresahan ini membuat saya tidak betah dalam beraktifitas. Saat ini tidak ada hal lain yang lebih menenangkan selain tenggelam bersama selimut dan bersandar di tumpukan bantal. Mungkin perut pun kali ini berkompromi dengan saya. Sama sekali tidak merasa lapar. Hal fisiologis yang wajar jika pikiran melanda otak kemudian terjadi penurunan hasrat, ya.. salah satunya adalah nafsu makan.

Mencari rasa apa ini, percuma. Rasanya seperti tertusuk benda tajam tetapi ini lebih sakit daripada luka tusuk apapun. Berada di antara jantung dan tulang rusuk. Jelas ini bukan di organ hati manusia. Jantung adalah organ manusia  dari bahasa kiasan untuk hati dalam romansa percintaan.

Ketika tersadar, akhirnya saya memutuskan untuk pergi mencari angin segar dan kegiatan lain yang membuat saya lupa. Saya tidak akan membiarkan diri saya hanyut dalam perasaan " yang tidak paham " tadi. Dan saya pun tidak juga membiarkan diri saya dalam kondisi sendiri. Akhirnya saya memutuskan untuk datang ke tempat keramayan dimana banyak orang orang lalu lalang dan mengerjakan aktifitasnya masing masing tanpa perlu memperdulikan yang lainnya. Saya merasa cukup nyaman meski hanya di temani dengan se-cup green tea frappe dan dua buah donat yang salah satunya dilapisi gambar smile.

Belajar dari gambar smile tadi. Membuat saya memahami bahwa ternyata untuk membuat orang berubah mood nya tidaklah sulit, hanya dengan 1 tahap proses yang mudah. Yaitu " tersenyumlah". Hmmm.. so far cara ini sedikit berhasil juga untuk menenangkan saya. Setidaknya berhasil untuk membangun mood untuk saya bisa berfikir jernih lagi.

Berjam-jam saya lalui menghabiskan waktu. Merenung. Membaca apa yang saya butuhkan dan kembali mengaitkannya dengan perasaan saya. Bertanya kembali kepada hati kecil saya " apa benar kamu jatuh cinta dengannya? " " apa yang membuat kamu bisa jatuh cinta setelah sekian lama ?"  Memastikan kembali apakah ini hanya perasaan  sesaat atau memang benar perasaan yang saya rasakan. Kemudian bertanya lagi kepada diri saya " apa kamu tau apa makna dari perasaan sayang yang sebenarnya? "  " atau ini mungkin hanya ego yang kamu perjuangkan?" 

Dan akhirnyapun saya menjawab dengan menganalogikannya.
"Cinta bisa datang kapan saja dia mau." " Cinta bisa datang tanpa memandang apapun." " dan cuma cinta yang bisa membuat seseorang terlihat sangat indah dibandingkan orang lainnya" . Begitu kebanyakan orang membuat statement. 
Mungkin dalam hal ini saya punya cara lain untuk menjawabnya. Yang saya rasakan semua ini sebenarnya berawal dari saya bertemu dan berkomunikasi kemudian berlanjut ke proses mencari tau dan membuat kondisi senyaman mungkin dan akhirnya sampai titik dimana saya bisa terbuka. Semakin di jalani perasaan saya semakin mengalami peningkatan. Berawal dari kagum kemudian naik menjadi saya suka dan melanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu perasaan sayang. Dalam tahap ini saya mulai merasakan dimana saya bisa manja, dimana saya bisa tertawa, dimana saya bisa merasakan sedikit cemburu dan sedikit ada perubahan mood ketika saya merasa tidak di respon.

Oke, saat ini saya akan membenarkan bahwa saya dalam tingkat saya sayang dengan sosok laki laki itu. Di tahap ini saya merasakan ego saya meningkat. Saya menjadi lebih sensitif dan mudah sekali menangis karna terbawa perasaan. Yang saya rasakan hanya rasa ingin memilikinya, rasa ingin mendapatkannya, rasa yang terlalu menggebu gebu sehingga saya lupa akan diri saya sendiri yang sebenarnya. Perasaan ini membuat saya lelah saya capek dan saya putus asa. Terlalu lebay rasanya ketika saya sadar akan tingkah laku saya.

Setelah berhasil tenang. Kemudian saya membuka kembali masa lalu saya. Berusaha menyadarkan kembali pikiran saya. Apa yang saya lakukan dimasa lalu ketika saya menyayangi dan mencintai seseorang. Ketika sebuah hubungan tidak bisa dipaksakan. Apa yang saya lakukan pada waktu itu?   Rasa sakit yang bagaimana? Apa lebih sakit dulu atau sekarang?

Saya pikir berulang kali.
Sampai akhirnya saya bisa menarik pernyataan.
Kenapa saya dulu bisa melepaskan seseorang padahal seseorang itu dulu saya kagumi saya bela saya hargai dan saya mau berkorban untuk nya bertahun tahun? Kenapa saya dulu bisa bertahan melihat dia  dengan perempuan lain yang jelas perempuan itu sudah menikung saya? Kenapa akhirnya saya bisa tersenyum kembali setelah saya melewati masa dimana saya merasa sakit hati padahal yang saya lihat dia sudah bahagia dengan orang lain? 

Jawabannya karena.. saya mencintai dia.
Pada saat itu yang saya harapankan adalah jalan terbaik yang harus saya lalui dan memberikan kebebasan dia mencari kebahagiaannya. Dan saya cuma berfikir positif terhadap semua kejadian yang saya lalui. Sesederhana itu untuk saya mencintai seseorang.

Setahun setengah berlalu dan saya dihadapkan dengan perasaan " yang saya tidak paham " ini kembali. Kali ini memang berbeda. Dia bukan siapa siapa saya tetapi bagi saya dia orang yang saya sayang. Perasaan yang semakin berlebih ini membuat saya berfikir untuk melakukan hal yang sama seperti masa lalu saya.
Mungkin saya akan memulai nya dengan membicarakan hal ini sejujurnya dengan dia supaya saya merasa lega dan tidak ada lagi perasaan yang mengganjal yang membuat saya resah. Kemudian setelah memberitahunya, saya akan melangkah ke tahap untuk menenangkan diri saya dan dia bahwa jalan yang saya ambil ini benar benar mebuat saya berkata " saya tidak apa apa " . Dan selanjutnya.. harapan saya dia bisa tenang dan tidak merasa tidak enam dan menjalani  kegiatan atau percakapan antara saya dan dia dengan " seperti biasanya kita" dan membebaskan dia bercerita ataupun memilah milih semau dia yang mungkin menurut dia yang terbaik dan pasti saya mau mendengarkan apapun keluh kesah atau berita gembira untuk dia sekalipun itu menjadi berita yang mungkin sakit untuk saya. Dan terakhir.. mungkin saya tidak sempat untuk bilang saya mencintai dia tetapi mungkin yang saya lakukan sudah mewakili bahwa saya sebenarnya mencintai dia.

Hal positif yang bisa saya ambil. Saya bersyukur masih bisa diberikan kesempatan untuk jatuh cinta setelah sekian lama sendiri dengan predikat perempuan PHP. Saya bersyukur saya bisa menyadarkan diri saya juga untuk mencoba lebih peka dengan orang lain dan tentunya kali ini menghargai usahanya. Saya bersyukur hal ini membuat saya lebih dewasa dalam hal menyikapi sesuatu, saya bersyukur saya masih disuruh belajar lagi untuk menjadi perempuan yang lebih baik lagi dibandingkan dengan yang lalu dan saya bersyukur dengan kejadian ini saya masih normal karna ternyata saya bisa juga terbuka hatinya untuk suka sama laki laki. Hehe..

Tentunya sayang saja buat saya tidak cukup tetapi ketika saya mencintai seseorang yang ternyata saya tidak bisa memiliki, inilah cara saya untuk menunjukannya. Buat saya...
                        
                          " Cinta Itu Sederhana " :)

Minggu, 19 April 2015

Love is blind

Hari ini saya mau mengangkat salah satu cerita seseorang yang saya yakini juga sering sekali di alamin perempuan lain di luar sana. Sebut saja kisah ini kisah si mawar. Dan saya akan menceritakan kisah mawar ini dengan sebutan "saya".
Oke.. kita mulai saja ya cerpen nya...

Hai.. saya adalah perempuan cuek, tidak peka atau lebih tepatnya tidak mau peka dengan siapa yang mendekati saya, saya suka dengan kesibukan dan saya lebih asyik mengurusi kerjaan . Saya bisa menjadi egois ketika mempunyai tujuan, saya moodyan ketika jenuh dan capek, dan saya pernah menjalin hubungan dengan laki laki cukup lama dan saya dikecewakan dengan laki laki tersebut karna urusan masalah orang ke 3.

Saya mempunyai kelemahan yaitu ketika saya sayang dengan seseorang. Semua sifat dan sikap saya menjadi keterbalikannya. Rasa sayang saya terhadap keluarga, rasa sayang terhadap teman teman terdekat dan terutama rasa sayang saya terhadap orang yang saya cintai.

Saya mempunyai pengalaman yang membuat enggan membahas, yaitu dalam hal percintaan. setelah di kecewakan laki laki berulang kali, membuat saya takut untuk jatuh cinta kembali. Membuat saya lebih enggan untuk menjalin suatu hubungan untuk beberapa waktu yang belun saya tentukan. Sehingga saya memilih cuek dan tidak peka terhadap laki laki yang mungkin mendekati saya. Tahunan berlalu dan saya masih tetap memilih sendiri. Sampai di suatu saat saya menemukan seseorang laki laki yang membuat saya sangat tertarik. Cuek, dingin, misterius susah di tebak tapi... sebetulnya dia manis dan romantis. Bertemu di salah satu tempat di bilangan jakarta, pertama kali melihat saya langsung suka dengan gesture tubuhnya yang menunjukan sikap keterbukaan dengan orang baru, cara bicaranya membuat saya nyaman karna dia tidak menganggap seakan akan saya orang yang baru dia temui. Cara dia menanggapi orang pun baik, orang yang super supel yang pernah saya temui. Hati sayapun tergelitik untuk mengenal nya lebih jauh.

Hari demi hari pun berlalu. Saya semakin tertarik dengan lelaki tersebut. Tetapi.. semakin saya jauh lebih ingin mengenalnya semakin saya merasa saya bukan menjadi saya. Saya merasa bimbang setiap saat dia cuek dengan saya, saya merasa seperti perempuan yang sedang kekinian dengan sebutan galau atau baper. Sudah lama saya tidak merasakan apa itu rasanya galau atau bimbang karna masalah laki laki. Dan sekarang saya bimbang dengan apa yang harus saya lakukan. Karna saya jatuh cinta dengan seseorang yang mempunyai pribadi yang cuek. Atau bahkan saya merasa dia seperti saya.

Akhirnya saya mencoba untuk membicarakan hal ini dengan teman saya. Dia berkata bahwa saya hanya membuang buang waktu kalau memikirkan dia yang membuat saya galau dan bimbang. Tapi bagaimana? Rasa egois saya muncul dan saya tidak ingin melepaskan dia dan saya memilih untuk mengejar dia dan bertahan meski saya sering galau di buatnya.
Akhirnya saya mengerti kenapa saya merasa bimbang dan mudah galau. Saya cuma ingin perasaan saya berbalas dan saya ingin dia menjadi pasangan saya.
Disaat saya berfikir jernih, rasanya saya ingin merelakan semuanya dan pelan pelan menghindar daripada sakit. Tetapi disaat saya ingin melakukannya. Terbesit keinginan yang jauh lebih besar yaitu bagaimanapun caranya saya harus bisa mendapatkan dia apapun yang terjadi. Mungkin ini yang sering di bilang orang orang bahwa " love is blind " .